Tidak Ada Bunga Lavender di Oro-Oro Ombo Gunung Semeru!

Penulis: Rio Indrawan - Waktu: Jumat, 21 Februari 2014 - 00:47 AM
Credit by: Oro-Oro Ombo di Gunung Semeru (portalindonesianews.com)

Jakarta, PINews.com - Siapa yang tidak kenal Gunung Semeru, namanya saja sudah terkenal bahakan hingga ke mancanegara karena keindahannya. Di jalur menuju puncak Mahameru ada beberapa destinasi yang menjadi daya tarik kuat bagi para pendaki yakni Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo.

Oro - Oro Ombo adalah hamparan sabana luas di tengah - tengah Gunung Semeru. Pada periode Januari - Agustus pendaki akan mudah menemukan bunga – bunga hijau kekningan dan ungu yang nampak indah dan biasa kita kenal sebagai bunga Lavender

Lalu apa benar itu bunga Lavender yang biasa tumbuh di dataran tinggi di benua Eropa dan bisa mengusir serangga maupun nyamuk?

Informasi dihimpun dari berbagai sumber menjelaskan bahwa ternyata tanaman indah berwarna ungu di Oro-Oro Ombo bukanlah Lavender. Itu adalah tanaman asing yang berasal dari Amerika Selatan bernama Verbena Brasiliensis Vell, yang tumbuh invasif di Gunung Bromo.

Tanaman itu kini ‘menguasai’ lahan seluasa 20 - an hektare Oro - Oro Ombo yang sebelumnya hanya berupa padang rumput ( sabana ) itu. Bunga Verbena Brasiliensis Vell ini berwarna ungu, mirip warna bunga Lavender.

Kombinasi warna kuning kehijauan dan ungu membentuk lanskap indah mirip taman bunga di beberapa negara Eropa, terutama Belanda dan Prancis. Tak heran bila banyak pendaki menyempatkan berfoto di lapangan luas di pos 5 (dari 10 pos pendakian di Gunung Semeru). 

Meski tampak indah, kehadiran Verbena brasiliensis justru mencemaskan. Tanaman asing ini bersifat invasif, bisa terus mendominasi dan menguasai habitat sehingga menggusur spesies tanaman asli TNBTS, seperti sabana di Ranu Kumbolo, Oro - Oro Ombo, Jambangan, dan Kalimati. Ekosistem pun kemudian terganggu.

Ada ancaman ekologis di balik keindahan itu. Tanaman ini bisa menjadi masalah serius seperti halnya Salvinia molesta ( kiambang atau kayapu ) yang sempat menutupi permukaan air Ranu Pani pada Juni - Juli tahun lalu, atau serangan akasia berduri ( Acacia nilotica ) di Taman Nasional Baluran yang sampai sekarang belum sepenuhnya teratasi.

Diduga Verbena brasiliensis masuk ke kawasan TNBTS pada masa kolonialisme. Berdasarkan buku Flora Pegunungan Jawa karya van Steenis. Pada masa kolonial daerah Nongkojajar di Pasuruan menjadi loji ( kompleks perumahan Belanda ) dan di sana hidup seorang ahli botani yang gemar mendatangkan jenis - jenis tumbuhan dari luar negeri, termasuk Verbena brasiliensis.

Editor: Rio Indrawan