Konservasi Lingkungan Dengan Filosofi Bahtera Nuh

Penulis: Alamsyah - Waktu: Minggu, 29 Oktober 2017 - 19:08 PM
Credit by: Alamsyah/PINews

Subang-PINews.com,- Saat banjir besar terjadi pada masa Nabi Nuh As, Nabi Nuh sudah diperintahkan Tuhan untuk menyiapkan sebuah kapal besar. Kapal yang dibuat Nuh dan pengikutnya itu mampu menyelamatkan berbagai jenis binatang dan tumbuhan, flora dan fauna serta manusia. Mereka yang bersama bahtera Nuh, mampu melewati hadangan banjir dan bisa memulai kehidupan baru setelahnya. Kehidupan yang lebih baik dan lebih bermartabat.

Filosofi untuk melakukan penyelematan terhadap flora, fauna serta lingkungan serta keinginan memulai kehidupan yang lebih baik itulah yang diadopsi oleh warga kampung Grinting, desa Cilamaya Girang, Blanakan, Subang. Harapannya, konservasi lingkungan bisa dilakukan, perekonomian yang lebih baik didapatkan.

Di desa Grinting, ada lahan yang cukup luas milik Perhutani. Pada 2009, di lahan tersebut 2,5 hektar dijadikan sebagai daerah bumi perkemahan untuk Kwartir Ranting (Kwaran) Pramuka kecamatan Blanakan. Hanya saja, setelah ditetapkan sebagai bumi perkemahan, daerah tersebut kurang terawat. Akses ke lokasi yang kurang bagus menjadi salah satu alasannya.

Alasan lainnya, daerah ini kerap dua kali dalam sebulan selalu tersapu banjir rob. Tidak mungkin dilakukan kegiatan, jika banjir selalu datang dan tidak mampu dihalau. Jadilah tempat ini tidak terawat.

Beberapa petani disekitar lokasi kemudian berinisiatif, menjadikan lahan tersebut sebagai daerah persawahan. Tetapi lahan yang selalu tersapu air laut itu tidak bisa serta merta dijadikan daerah persawahan. Jangankan padi, pepohonanpun enggan tumbuh di atas tanah yang memiliki kadar garam tinggi itu.

Arruji Kartawinata, tokoh masyarakat Grinting yang sempat bersama beberapa warga ingin menjadikan lokasi tersebut sebagai lokasi sebagai areal persawahan menceritakan, minimnya pengetahuan masyarakat terkait pengolahan lahan, menyebabkan lahan ini tidak produktif. Padahal, untuk mengolah lahan yang sering terkena banjir rob, perlu ada treatmen khusus. “Harus ada ilmunya, ngga bisa sembarangan,” demikian ungkap Arroji yang bersama puluhan warga lainnya pernah menggarap lahan tersebut.

Karena gagal memanfaatkan lahan tersebut menjadi sumber perekonomian, sebagian besar warga angkat kaki. Arroji sendirian yang masih terus bertahan, meski tidak banyak hal juga yang bisa dilakukan.

Bapak dua anak ini menceritakan, selain kerap diserang banjir rob, lokasi ini juga menjadi tempat bermukim ratusan bahkan ribuan tikus. Tikus  menjadi musuh petani , karena menjadi hama yang menghancurkan harapan petani untuk bisa menuai hasil panen yang maksimal.   

Pria kelahiran 1973 ini juga tidak menampik bahwa lokasi sekitar kawasan tersebut menjadi tempat transaksi dan penyelundupan barang-barang hasil curian. Barang-barang yang dicuri, merupakan aset milik Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ) yang tidak jauh dari lokasi.

“Memang sungai di depan ini menjadi tempat bongkar muat barang curian. Tetapi bukan oleh nelayan sini (pelaku pencurian) ,” terangnya.

Setelah ditinggal oleh teman-temannya, Arruji nyaris sendiri. Tetapi harapannya bahwa tempat ini harus bisa memberi manfaat bagi masyarakat, masih terus membuncah. Di sela kegiatannya di penggilingan padi dan penyewaan perahu penyeberangan, Arruji terus menjalin komunikasi dengan banyak pihak.

Salah satu yang menjadi keprihatinannya adalah banyak nelayan yang tidak bisa lagi melaut, karena faktor usia atau kesehatan. Banyak dari mereka yang tidak lagi memiliki pendapatan. Sementara masih ada keluarga yang harus menjadi tanggungjawab mereka.

Kebetulan, pada awal rencana pemanfaatan lahan menjadi Bumi Perkemahan, tidak jauh dari lokasi ini PHE ONWJ membangun sekolah dasar. Sekolah dasar yang dibangun PHE ONWJ ini menurutnya sangat berarti karena selama ini, masyarakat kampung Grinting harus menempuh perjalanan jauh untuk bisa bersekolah.

Tidak mengherankan, jika  lebih dari 10% anak-anak di Cilamaya Girang tidak melanjutkan sekolah alias putus sekolah. Jarak yang jauh menjadi alasan atau memilih menjadi nelayan mengikuti jejak orang tua mereka. Kehadiran sekolah tersebut, ikut membantu mengurangi anak putus sekolah.

“Saya juga akhirnya bisa bangun TK di samping sekolah tersebut, dari kelebihan pembangunan SD,” terangnya.

Kapal Green Think

Pada 2011, Arroji mencoba menjalin komunikasi dengan PHE ONWJ, untuk memanfaatkan lahan yang cukup luas tersebut. Gayung bersambut. Tetapi lahan tersebut tidak hanya sekedar untuk bumi perkemahan atau lahan pertanian. Lokasi tersebut harus dijadikan sebagai pusat sarana pendidikan lingkungan, pengelolaan hutan hujan tropis, sistem pertanian terpadu dan juga ekowisata berbasis masyarakat.

Pendekatan kepada Kwartir Ranting Pramuka Blanakan juga Perhutani dilakukan dengan mengajukan konsep Eco-Edutourism Park. Semua sepakat  lokasi ini dinamakan menjadi Kapal Kehati Green Think.

Bahtera Nuh As dan penyelamatan terhadap flora dan fauna mnejadi filosofi dasar penamaan tempat ini. ‘kalau dari udara, tempat ini terlihat seperti kapal atau perahu,” jelas Arroji lagi.

“’PHE ONWJ bersama masyarakat, ingin menjadikan lokasi tersebut sebagai pusat pendidikan lingkungan hidup untuk pelajar dan masyarakat serta upaya mitigasi adaptasi perubahan iklim,” demikian disampaikan Siswantoro M.Prasodjo, General Manager PHE ONWJ.

Sejak 2001-2013, mulai dilakukan pembangunan parit dan saluran air kemudian juga berbagai upaya untuk mengembalikan agar tanah kembali subur dan bisa ditumbuhi tanaman.

Hasilnya kini, sudah ada lebih dari 1000 jenis pohon baik pohon buah ataupun vegetasi pantai tumbuh subur. Jumlah pepohonan tersebut setara dengan 9.640 kg CO2-eq.  Berbagai jenis burung hidup di tempat ini. Pepohonan yang tumbuh subur dan rindang, menjadi daya tarik bagi aneka jenis burung dan satwa untuk datang.

Konsep potensi ekonomi berkelanjutan bersinergi dengan konservasi lingkungan menjadi dasar dalam mengembangkan lokasi ini. Adalah kelompok tani Green Think yang mengelola lahan tersebut dan menerapkan konsep integrated farming system atau sistem pertanian terpadu.

Komponen usaha tani yang dilakukan meliputi budidaya ikan nila srikandi, budidaya bebek petelur, usaha penggemukan domba, budidaya tanaman produktif, tanaman obat keluarga serta budidaya jamur merang. Masyarakat juga diajarkan untuk memanfaatkan limbah ternah untuk menjadi pupuk.

“Kita menerapkan konsep zero waste. Tidak ada yang terbuang percuma. Kotoran hewan dan bekas  jamur diolah menjadi pupuk yang dipakai lagi untuk tanaman,” urai Siswantoro lagi.

Setelah lahan ini dikonservasi dengan beragam fasilitas di dalamnya dan kegiatan perekonomian yang menjanjikan, puluhan mantan nelayan  yang sebelumnya bergabung dan sempat pergi, kini kembali lagi. Mereka bergabung kembali dalam kelompok tani Green Think dengan Arruji Kartawinata sebagai Ketua.

“Dengan sistem pertanian terpadu, pensiunan nelayan yang sudah tidak mampu melaut akan kembali memiliki penghasilan,” jelas Arruji.

Tidak hanya kaum pria, usaha ini juga sudah berkembang menjangkau usaha wanita istri nelayan untuk membuat produk makanan hasil tani dan mengolah telur bebek menjadi telur asin.

Agus Sudaryanto, Asisten Manager CSR PHE ONWJ mengatakan, sejak 2017, rerata 22 anggota kelompok tani sudah bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 1,5 juta setiap bulan dengan pemasukan keseluruhan dari kegiatan perekonomian sekitar Rp 25-30 juta.

“Untuk jamur saja, setiap hari bisa memanen sekitar 25 kilo dengan harga sekitar Rp 30 ribu per kilo,” jelas Agus.

Arruji, merupakan orang yang paling berbahagia dengan kesuksesan kapal Green Think ini. Konsistensinya membuahkan hasi dan usahanya membuahkan hasil. Bukan hanya untuk dirinya saja, tetapi untuk masyarakat sekitar juga untuk kelestarian lingkungan.

“Dulu, suara kodok menjadi barang asing. Kini tiap malam suara kodok bersahutan bersamaan dengan suara berbagai jenis burung,” cerita pria kelahiran 1973 ini lagi.

Suwarna, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang yang hadir mewakili Bupati pada saat peresmian Kapal Green Think pada 26 Oktober 2017 lalu,  memberikan apresiasi terhadap langkah sinergi yang dilakukan oleh PHE ONWJ dan kelompok tani Green Think sehingga tempat yang semula gersang dan tidak terawat serta selalu digenangi banjir jika air laut pasang, kini sudah layak dan bagus untuk kegiatan dan aktivitas luar ruangan.

“Kita patut berterima kasih kepada Pertamina (ONWJ). Pertamina sudah membuat stimulan yang baik, selanjutnya kita yang merawat dan mengelola tempat ini. Saya harapkan mari kita jadikan tempat ini sebagai tempat yang bersejarah dan monumental,” ujarn ya disambut riuh tepuk tangan penonton.

 Ia menyarankan agar tempat yang semula sebagai bumi perkemahan ini, tidak hanya dipakai hanya untuk kegiatan perkemahan pramuka semata, tetapi kegiatan pelantikan atau rapat kecamatan Blanakan atau kegiatan desa Cilamaya Girang juga bisa menggunakan tempat tersebut, sehingga manfaatnya dirasakan benar dan terutama karena tempat tersebut sangat layak untuk dijadikan berbagai kegiatan.

“Saya akan segera informasikan kepada Bupati, agar kalau bisa jalan masuk menuju area ini bisa diperbaiki, sehingga akses menuju tempat ini juga bisa lebih baik,” ujarnya lagi.

Agus Mashudi,  Kepala Perhutani Kabupaten Subang  tak henti hentinya memberikan apresiasi terhadap langkah yang sudah dilakukan oleh PHE ONWJ. Ia kagum, karena tanah milik Perhutani tersebut sebelumnya merupakan tanah tandus yang susah ditumbuhi tanaman. Tetapi dengan upaya yang dilakukan, kini sudah ada 1000 lebih pohon ditanam dengan puluhan jenis tanaman.

“ini menunjukan bahwa sesuatu yang kelihatan tidak  bermanfaat tetapi karena ada kemauan untuk diusahakan dan dikelola, akhirnya bisa memberi manfaat juga,’ demikian ujar Agus Mashudi saat meninjau lokasi usai acara pembukaan.

Lebih lanjut ia berharap tempat ini menjadi sarana pendidikan lingkungan baik untuk pelajar juga untuk masyarakat. Apalagi di tempat tersebut tersedia juga kegiatan perekonomian, seperti jamur, pengelolaan sampah, peternakan, perikanan juga pertanian. Sehingga tempat tersebut tepat menjadi laboratorium bagi masyarakat Blanakan dan Subang umumnya.

Pada akhir pekan atau hari libur, tempat ini ramai dikunjungi, baik oleh anak-anak sekolah ataupun oleh oarang tua. Berbagai fasilitas yang tersedia, rimbunan pepohonan di lokasi membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. Pengunjung juga bisa mencoba perahu hingga ke bibir pantai dengan membayar Rp 5000.

Masyarakat atau pelajar bisa belajar aneka jenis tanaman. Tiap tiap pohon doberi nama. Pengunjung juga bisa melihat proses pengolahan sampah, peternakan domba, budidaya jamur, bebek dan juga pertanian. Arena out bond juga tersedia.

Maka tak berlebihan jika Kapal Green Think, menjadi destinasi baru wisata di kabupaten Subang. Selama ini, kawasan utara Subang tidak pernah dilirik karena minim lokasi wisata. Masyarakat lebih mengenal lokasi wisata subang di wilayah selatan, daerah pegunungan.

Arruji Kartawinata optimis, bahwa masyarakat sudah bisa mandiri dan dan kegiatan perekonomian bisa terus berlanjut, meskipun nanti PHE ONWJ tidak lagi berkecimpung di dalamnya. Dasar dan pondasi sudah dibuat oleh PHE ONWJ, masyarakat siap melanjutkan. Ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah kelompok tani akan bertambah.

“Masih akan ada kegiatan yang dilakukan dan itu membutuhkan banyak orang lagi,” ujarnya optimis.

 Bahtera Nuh yang diadopsi filosofinya kini menjadi berkah bagi warga Kampung Grinting, Cilamaya Girang. Lahan tandus bisa dikonservasi dan dimanfaatkan. Flora dan fauna hidup, perekonomian tumbuh kemandirian ekonomi masyarakat terwujud.[]

 

Editor: