Keadilan Itu Telah Ditunaikan

Penulis: Lili Hermawan - Waktu: Minggu, 1 Juli 2018 - 13:23 PM
Credit by: chevron/dok

Tidak banyak perusahaan besar yang sudah bermitra dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri. Di antara yang sedikit itu, terdapat perusahaan minyak dan gas (migas) bernama Standard Oil Company of California (Socal), yang kini dikenal dengan Chevron.

Sejak 1924, Socal  mengirimkan ekspedisi geologi ke Sumatera untuk mencari ladang minyak. Pengeboran di Lapangan Duri baru dapat dilakukan pada 1941. Empat tahun kemudian, salah satu sumur di dekat desa di Minas menjadi lapangan minyak terbesar yang pernah ditemukan di Asia Tenggara. Produksi pun dimulai 17 tahun berselang, yakni pada 1958.

Di usianya yang menginjak 77 tahun, Lapangan Duri mampu bertahan sebagai salah satu penopang produksi minyak nasional hingga sekarang. Keberhasilan tersebut berkat penerapan teknologi injeksi uap (steam flood) yang membuat produksi Lapangan Duri lima kali lebih banyak dibandingkan teknologi konvensional. Teknologi injeksi uap di lapangan tersebut merupakan yang pertama di Indonesia dan salah satu yang terbesar di dunia.

’’Keberhasilan pengelolaan dan penambahan usia lapangan migas juga ditentukan oleh teknologi yang digunakan. Chevron terus berinventasi dalam pengembangan teknologi pencarian minyak maupun enhanced oil recovery (EOR) guna mengoptimalkan tingkat perolehan minyak,’’ jelas Senior Vice President (SVP) Policy, Government, and Public Affairs Chevron Yanto Sianipar.

Lapangan Duri termasuk wilayah kerja Blok Rokan, di Provinsi Riau yang dikelola PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI). etelah melewati titik puncak produksi dari fase primer sebanyak 65.000 barel per hari (bph) pada 1965, produksi Lapangan Duri menurun secara alamiah seiring penurunan tekanan di dalam reservoir.

CPI memulai pilot project injeksi uap di Lapangan Duri pada 1975. Sepuluh tahun kemudian, teknologi ini diterapkan dalam skala besar dan mampu kembali menaikkan produksi hingga mencapai 300 ribu bph pada 1994. Semua itu dicapai berkat penerapan teknologi. Hingga saat ini, Lapangan Duri telah menghasilkan lebih dari 2,6 miliar barel.

Yanto menegaskan CPI terus mengembangkan lapangan ini untuk menjaga kontribusi Lapangan Duri terhadap produksi nasional.  “Dua pengembangan terakhir adalah North Duri Area 12 dan 13 yang masing-masing menghasilkan produksi perdana pada 2008 dan 2013,” katanya. ”Dengan inovasi dan komitmen karyawan kami yang memiliki keahlian dan dedikasi tinggi, Chevron Indonesia menjadi salah satu produsen minyak mentah terbesar di Indonesia.

Dalam mengoperasikan blok migas, Chevron bekerja di bawah pengawasan SKK Migas berdasarkan kontrak kerja sama atau Production Sharing Contract (PSC). Produksi migas perusahaan tak hanya didapat dari lapangan-lapangan migas darat di Riau, Sumatera. Produksi Chevron juga berasal dari lapangan-lapangan migas lepas pantai di Kalimantan Timur.  “Kami telah memproduksi lebih dari 13 miliar barel minyak untuk pemenuhan kebutuhan energi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Pengembangan lapangan migas terkini berada di lepas pantai. Tahap pertama Proyek Indonesia Deepwater Development (IDD), pengembangan Lapangan Bangka, telah berproduksi sejak Agustus 2016 dan telah menghasilkan delapan kargo gas alam cair (LNG) yang dikapalkan dari Terminal LNG Bontang. Tahap kedua Proyek IDD, pengembangan Gendalo -Gehem, memberikan peluang nyata untuk memaksimalkan nilai dari aset-aset gas laut dalam ini bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Studi dan konsep kelayakan pekerjaan keteknikan dan desain, atau pre-Front End Engineering and Design, atas proyek IDD yang telah dimulai pada Desember 2017 berjalan dengan baik. Optimalisasi konsep pengembangan dan dasar penyederhanaan rancangan menunjukkan pengembangan modal dan pengurangan biaya operasional yang signifikan,” kata Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor.

Chevron sebagai operator memegang 63% saham kepemilikan di Proyek IDD (secara agregat), bersama mitra joint venture lainnya yaitu Eni, Tip Top, PHE, dan para mitra Muara Bakau.

Menurut Yanto, Chevron bekerja sama dengan pemerintah dan mitra-mitra untuk menciptakan efek ekonomi berganda dari kegiatan operasi perusahaan ke seluruh Indonesia. Kegiatan operasi Chevron telah memberikan kontribusi kepada negara dan masyarakat Indonesia dalam beberapa aspek penting. Misalnya, dari 2009 hingga 2013, Chevron dan mitra-mitranya memberikan kontribusi sebesar Rp455 triliun bagi pendapatan pemerintah Indonesia. Pada 2013, kegiatan operasi Chevron telah menciptakan 260.000 lapangan kerja (baik langsung, tidak langsung, maupun imbasan). Pada periode yang sama,  tiap satu pekerjaan di Chevron mendukung rata-rata 36 lapangan kerja lain di Indonesia.

“Kami bangga dengan apa yang telah kami telah lakukan dan menghargai kemitraan kami yang kuat dan berkelanjutan dengan emerintah Indonesia, organisasi-organisasi non-pemerintah dan masyarakat sekitar, yang merupakan landasan kokoh atas upaya kami dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan jangka panjang serta kesejahteraan untuk negeri ini,” kata Yanto.

Kalangan legislatif berharap kehadiran perusahaan migas tak hanya menyumbangkan pendapatan bagi negara. Perusahaan, lewat berbagai kegiatan corporate social responsibility (CSR) wajib mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara langsung.

“Daerah-daerah yang tidak berada dalam wilayah operasi SKK Migas turut merasakan bantuan CSR. Karena minyak yang ada di dalam perut bumi ini adalah milik seluruh warga negara Indonesia. Demi memenuhi rasa keadilan, sepantasnya hasil seluruh KKKS dikolektif oleh SKK Migas, untuk disalurkan dengan lebih merata,” tutur Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Herman Khaeron, di Jakarta, pekan lalu.

Ia menambahkan fungsi CSR adalah membantu pemerintah dalam menyejahterakan masyarakat melalui pola kemitraan. “Ini bisa terdiri dari beberapa bidang program diantaranya bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur,” kata politisi dari Partai Demokrat ini.

Arahan dan harapan para wakil rakyat itu jauh-jauh hari telah dilaksanakan oleh Chevron melalui berbagai program CSR. Chevron mendesain berbagai program jempolan yang menjangkau wilayah-wilayah di luar operasi perusahaan. Salah satu program yang sangat nyata keberhasilannya adalah upaya tanggap darurat dan pembangunan kembali pascabencana alam di Indonesia.  Lewat program ini, Chevron berupaya membangun kemitraan lokal  guna membantu mengembalikan akses layanan kesehatan dan kebutuhan dasar manusia serta menerapkan upaya-upaya pemulihan jangka panjang.

Penerapan program di Aceh adalah contoh terbaik.  Sebagai respons terhadap gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan bagian utara Sumatera pada 2004, dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah Aceh dan berbagai mitra, Chevron menyumbangkan sekitar $15 juta untuk program cepat tanggap darurat bencana serta pemulihan jangka panjang. “Kami juga mendukung program Business Startup Establishment, yang telah berhasil menciptakan 6.000 lapangan kerja,” kata Yanto.

Pendidikan dan pelatihan merupakan kunci pengembangan kapasitas dan mempertahankan pengembangan ekonomi di kawasan yang terkena dampak tsunami. Chevron dan mitra-mitranya telah berinvestasi pada sejumlah program pelatihan kejuruan dan pendidikan untuk menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan jangka panjang, termasuk melalui pendirian Politeknik Aceh. Konstruksi bangunan politeknik yang menghabiskan dana sekitar US$6 juta itu dibiayai penuh oleh Chevron.

Atas inisiatif bersama, antara Chevron, United States Agency for International Development (USAID), dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh (BRR), Politeknik Aceh memulai tahun ajaran pertamanya pada 2008. Fasilitas seluas 9.000 meter persegi dengan berkapasitas 450 mahasiswa ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Februari 2009. Politeknik Aceh menawarkan gelar di bidang teknik mekatronika, teknik informatika, teknik elektronika industri dan akuntansi.

Kata Yanto, Chevron menyumbangkan US$14,7 juta untuk pemulihan paska bencana, mencakup pembangunan Politeknik Aceh dan sekitar US$9 juta untuk mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang serta upaya pertumbuhan yang berkelanjutan. Selain itu, Chevron berhasil menggalang dana sebesar US$15 juta dari para mitra. “Kami bermitra dengan Palang Merah Indonesia untuk menyediakan pelatihan pengembangan organisasi dan peningkatan kapasitas para staf medis; dengan JHPIEGO untuk memberikan pelatihan kebidanan di sejumlah desa di Aceh Besar; dan dengan Indonesia Heritage Foundation untuk memberikan pelatihan guru dan membuka 30 sekolah pra-Taman Kanak-Kanak yang baru di Aceh,” katanya.

Chevron juga menyediakan bantuan langsung lewat pascabencana alam di Sumatera Barat dan Jawa Barat pada 2009. “Kami mencanangkan Chevron Earthquake Recovery Initiative (CERI), sebuah program rehabilitasi sekolah senilai US$1,8 juta untuk membantu membangun kembali sekolah-sekolah yang rusak parah,” papar Yanto.

Pendidikan menjadi salah satu fokus Chevron dalam membantu masyarakat.  Menurut Yantio, Chevron percaya kerjasama pendidikan merupakan investasi strategis untuk pembangunan ekonomi masyarakat setempat dan keberlangsungan bisnis energi masa depan. Perusahaan memiliki University Partnership Program (UPP) atau program kemitraan universitas bekerja sama dengan lebih dari 100 perguruan tinggi baik dari dalam maupun luar negeri. Program ini bertujuan membantu menarik minat serta mengembangkan mahasiswa-mahasiswa berbakat dan dosen yang dapat membantu menciptakan tenaga kerja teknik yang andal dan berdaya saing global.

Program ini memberikan dukungan yang strategis dalam berbagai aspek meliputi beasiswa, bantuan dana, akreditasi fakultas, bantuan untuk departemen fakultas, dan perbaikan laboratorium. Sejak 2006, Chevron telah membantu mitra-mitra universitas seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan memberikan beasiswa pascasarjana, program pembelajaran jarak jauh dan program magang. “Kami juga membantu meningkatkan fasilitas laboratorium mereka dan mengadakan kuliah dosen tamu,” kata Yanto.

Jelas, selama lebih dari 90 tahun kehadiran mereka di Indonesia, Chevron telah menjadi mitra bagi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mendukung kemajuan masyarakat.  Energi positif Chevron menciptakan efek ekonomi berganda dari kegiatan operasi perusahaan ke seluruh Indonesia. Keadilan itu telah ditunaikan.

Editor: HAR