Tentang "Football's Coming Home" untuk Timnas Inggris

Penulis: Rio Indrawan - Waktu: Selasa, 10 Juli 2018 - 14:36 PM
Credit by: internet

Jakarta, PINews.com -  Ada yang berbeda dalam perhelatan Piala Dunia 2018.  Yel-yel  "Football's Coming Home" diteriakan para fans timnas Inggris sepanjang pertandingan yang dilakoni kesebelasan itu. Itu menjadi seruan, slogan, hingga seolah seperti mantra para pendukung Inggris saat menyaksikan pasukan Gareth Southgate itu beraksi.

Sebenarnya, sudah 20 tahun lalu seruan "Football's Coming Home" atau "It's Coming Home" dikumandangkan untuk memacu  semangat Tim Tiga Singa yang kerap loyo dalam turnamen-turnamen akbar sepak bola. Kini, slogan yang berasal dari syair lagu berjudul "Three Lions" itu kembali populer seiring dengan ciamiknya penampilan Harry Keane cs di Rusia.

Lagu itu tidak hanya dinyanyikan fans, namun dinikmati secara umum dan menembus urutan teratas dalam tangga lagu UK Singles Chart selama dua pekan. Single "Three Lions" merupakan lagu utama dalam album kompilasi musik untuk Piala Eropa 1996 bertajuk "The Beautiful Game" yang juga menampilkan musisi ternama antara lain Blur, Jamiroquai, Pulp, MassiveAttack hingga New Order dan Supergrass.

Adapun versi terbaru "Three Lions" dirilis kembali pada Juni 1998 menjelang Piala Dunia. Seperti lagu sebelumnya, "Three Lions" versi 1998 langsung merajai puncak tangga lagu dan bertahan selama tiga minggu. "Three Lions" adalah buah kolaborasi antara duo komedian - Frank Skinner dan David Baddiel -- yang dibantu musisi Ian Broudie dari band The Lightning Seeds.

Baddiel dan Skinner merupakan presenter acara televisi "Fantasy Football League" pada masa itu. Mereka menulis syair "Three Lions" kemudian meminta Broudie membuat irama musik pada tembang yang menjadi legendaris itu.

Skinner, dalam sebuah wawancara dengan BBC, mengatakan seseorang menelepon kami dan bertanya, 'Bagaimana jika Anda membuat lagu resmi untuk Inggris di Piala Eropa?' Dan jelas, kami menjawab iya."

Lagu ini mengusung misi optimistis untuk mendorong timnas Inggris yang sering kalah, agar berprestasi di kancah internasional. Lagu ini dibuat seperti slogan dengan kalimat "We still believe - It's coming home' yang diucap berulang-ulang.  Lagu ini didengungkan kembali pada 1998 agar memotivasi Inggris merebut juara dunia keduanya setelah 1966.

Namun, The Three Lions gagal di babak 16 besar Piala Dunia Prancis. Pada Piala Eropa 1996 Inggris hanya mencapai babak seminal.

Setelah menduduki puncak tangga lagu pada 22 tahun yang lalu, "Three Lions" yang terus dinyanyikan selama Piala Dunia Rusia kembali merangsek ke tangga lagu papan atas. Saat Inggris mengalahkan Kolombia untuk lolos ke perempatnal pada Selasa (3/7), penggemar menyanyikan lagu itu di jalan, cafe, dan sejumlah tempat-tempat umum di Inggris.

Mantar striker Inggris, Alan Shearer yang masuk skuat 1996, ikut menyanyikan lagu itu pada bagian reff saat tampil di televisi. Pada hari yang sama, lagu itu diputar 450.000 kali melalui aplikasi Spotify, mencapai titik tertinggi sepanjang waktu menurut layanan streaming musik itu.

Peringkat lagu ini kembali melonjak, menurut Ocial Charts Company, dan masuk ke dalam Top 40 Ocial. Singles Chart pada Jumat (6/7) sebelum Inggris melawan Swedia. "Ini adalah lagu tentang bagaimana kami sering kalah," kata Baddiel kepada pada radio BBC. "Dan itu adalah lagu yang ingin kami nyanyikan."

Publik dan media massa di Inggris kini ramai-ramai memberitakan keberhasilan pasukan Gareth Southgate yang mencapai babak seminal Piala Dunia 2018 seusai mengalahkan Swedia 2-0, Sabtu (7/7). Inggris berpeluang ke partai puncak Piala Dunia apabila mengalahkan Kroasia pada babak seminal pada Rabu pekan depan.

"Rabu yang langka! Penggemar menjadi liar saat tim Tiga Singa mencapai seminal Piala Dunia pertama dalam 28 tahun," kata harian The Sun, Minggu, dilansir AFP.

Situs online The Mail On Sunday menulis, "Mimpi yang berlanjut! Inggris dalam suka cita". Media itu juga memuji penampilan kiper Inggris, Jordan Pickford, yang melakukan penyelamatan heroik, serta menyebutkan pertandingan itu menyedot sekira 32 juta pemirsa televisi Inggris.

Sementara Sunday Mirror mengutip lagu yang ditulis saat Inggris menjadi tuan rumah Piala Eropa 1996, "Inggris berada di semifinal Piala Dunia? Mungkinkah ini kembalinya sepak bola di musim panas?"

Adapun Observer menuliskan laporan, "Pada peluit akhir, para pemain yang menang berkumpul satu sama lain. Butuh beberapa detik bagi mereka untuk mengumpulkan napas kemudian, akhirnya, mereka bisa bergabung dalam pesta yang sudah berjalan dari sisi gawang ke sisi kanan".

Meskipun euforia terus mengalir, namun sejumlah media tetap melancarkan kritik kepada timnas Inggris. Sunday Telegraph mengatakan Southgate "telah membebaskan Inggris dan ambisi negara itu harus lebih tinggi dari 1990" ketika mencapai seminal namun dikalahkan Jerman Barat.

Surat kabar juga membandingkan Southgate dengan pelatih Inggris 28 tahun lalu, Bobby Robson. "Kesamaan antara Southgate dan almarhum Sir Bobby sangat mencolok. Keduanya identik dengan kesopanan, pertimbangan dan kebersamaan. Seperti Robson, Southgate berhasil menemukan emas dengan memainkan tiga pemain belakang dan memberikan kebebasan berekspresi juga mendukung pemain-pemain muda," kutip AFP. (Berbagai sumber)

Editor: HAR