Awas, Pegawai Kantoran Juga Terancam Saraf Kejepit
Credit by: Ilustrasi

Jakarta, PINews.com - Anda pasti pernah merasakan sakit punggung dan pegel pada leher. Terkadang anda membiarkannya begitu saja atau anggap sepele masalah itu karena memang seringkali rasa nyeri yang dirasakan akan hilang dengan sendirinya.

Tapi anda harus berhati-hati jika rasa nyeri yang anda rasakan intensitasnya tinggi dan dirasa sering maka sebaiknya anda memeriksa kondisi anda sebelum terlambat.

Neyeri di sekitar punggung atau leher dengan intensitas tinggi bisa disebabkan oleh saraf kejepit. Dampaknya cukup besar, jika tidak tangani dengan baik maka anda pun harus melewati tahapan operasi.

Menurut konsultan bedah saraf Bunda Neuro Center RS Bunda Jakarta, Wawan Mulyawan, saraf kejepit merupakan kondisi ketika bantalan pada sendi tulang belakang menonjol ke luar lantaran pembungkusnya sobek. Isi bantalan yang berupa gel padat keluar dan menjepit saraf.

“Di antara tulang pinggang manusia terdapat sendi yang membuat badan bisa lentur. Di dalam sendi terdapat semacam jeli berisi kadar air yang pada usia semakin tua, jeli itu akan mengeras, dan jeli itu dilapisi kapsul pembungkus. Jika sobek, isinya otomatis menjepit saraf," terang Wawan beberapa waktu lalu di Jakarta.

Meskipun presentase orang mengalami saraf kejepit terbilang kecil, tapi jika nyeri tidak ditangani dengan baik dan ternyata sarafnya benar-benar kejepit maka si penderita bisa mengalami cacat saraf seperti lumpuh, kehilangan kontrol terhadap kan-dung kemih, hingga impoten.

Hal yang harus diperhatikan, lanjut Wawan, setiap orang ternyata berpotensi mengalami saraf kejepit. Tidak hanya para pekerja berat akan tetapi juga para karyawan kantoran yang biasanya duduk berjam-jam di depan meja kerja atau komputer.

"Kalau suka kesemutan, atau mati rasa pada kaki, atau nyeri pinggang luar biasa, sebaiknya segera diperiksa. Jika masih tahap ringan, bisa diobati langsung tanpa operasi. Untuk mengetahui saraf kejepit atau bukan, tentu harus dirontgen, bila perlu MRI" tukas Wawan.

Editor: RI