Dua Siswi SD Dikeluarkan Karena Orangtuanya Pertanyakan Kejelasan BSM
Credit by: Dua siswi, Hadiria dan Masda (kompas)

Polewali Mandar, PINews.com - Dilaporkan duaorang siswi bersaudara SD 027 Polewali Mandar dikeluarkan dari sekolahnya lantaran orang tua mereka mempertanyakan dan memprotes pemotongan dana bantuan siswa miskin (BSM) yang dilakukan secara sepihak oleh sekolah.

Hadiria dan Masda, dua siswi bersaudara yang malang sekarang harus berdiam diri di rumah saat anak-anak sebayanya menimba ilmu mereka di sekolah.

Mahamuddin, ayah mereka tidak mengetahui alasan pihak sekolah tiba-tiba mengeluarkan kedua anaknya secara sepihak. Ia menduga kedua anaknya dikeluarkan karena dirinya bersama beberapa orang tua murid lain berani mempertanyakan pemotongan bana bantuan BSM yang dianggapnya tidak sesuai aturan.

Mahamuddin menilai wajar jika dia mempertanyakan soal dan BSM. Sebab, seharusnya setiap siswa menerima dana BSM Rp 360.000, tetapi kenyataannya tidak sama sekali. 

Menurutnya, pencarian dana BSM memang dilakukan di kantor pos dan uang itu diterima oleh anak didik. Namun, baru sekitar 5 menit uang itu di tangan siswa, sudah diambil kembali oleh guru tanpa alasan yang jelas. 

Bahkan, para siswa penerima BSM dilarang menceritakan hal itu ke orangtua mereka.

“Saya diajak guru ke kantor pos mencairkan dana Rp 360.000. Setelah dicairkan, langsung diambil lagi oleh guru. Dan semua siswa penerima BSM diminta agar tidak menceritakan soal dana BSM kepada orangtua atau siapa pun,” ujar Hadiria. 

akan tetapi Hadiria dan Masda menceritakannya kepada orang tua mereka, kontan Mahamuddin merasa perlu memperanyakan ke pihak sekolah mengenai hal ini. sesampainya disekolah ternyata beberapa orang tua murid lain juga mengambil tindakan serupa.

Mahamuddin mengaku sempat terlibat pertengkaran dengan kepala sekolah Haji Abdul Karim karena menganggap penjelasan pemotongan BSM tak masuk akal. Tersulut emosi, sang kepala sekolah bahkan sempat menggebrak meja dan mengusir Mahamuddin dari sekolah. 

“Sebagai orangtua siswa, saya tentu berhak mempertanyakan dana BSM yang tidak disalurkan sesuai aturan, tapi kepala sekolah rupanya marah dan saya bersama sejumlah orangtua siswa lainnya sempat bertengkar. Mungkin inilah pemicunya anak saya dikeluarkan secara sepihak,” ungkap Mahamuddin. 

Selain dikeluarkan, kata dia, ranking di rapor anaknya juga diturunkan dari kedua menjadi kelima. Mahamuddin menduga ranking rapor anaknya diubah sebelum dia diberi surat dikeluarkan oleh pihak sekolah. Hal itu terlihat dari tulisan rapor Hadiria  yang semula bersih, kini "belepotan" dengan tip-ex dan angka-angkanya berubah. 

Sementara itu, Kepala SD 027 Labuang Haji Abdul Karim mengakui ia memang sempat terlibat pertengkaran dengan Mahamuddin dan sejumah orangtua siswa lantaran kata-kata mereka dinilai tak pantas. 

Menanggapi alasan pemecatan dua siswinya, Karim mengaku justru itu atas permintaan Mahamuddin. 

“Pemecatan dua siswi bukan keinginan sekolah, tetapi itu permintaan orangtua sendiri. Rapat komite yang dihadiri semua pihak juga sudah setuju agar kedua siswi ini dipecat dari sekolah. Pemecatan kedua siswa ini jangan dikait-kaitkan dengan persitiwa sebelumnya karena ini tak ada kaitannya,” kata Abdul Karim, belum lama ini. 

Namun pernyataan Abdul Karim dibantah Mahamuddin. Menurutnya, justru kepala sekolahlah yang berusaha mencari-cari alasan pembenaran agar kedua anaknya bisa didepak dari sekolah karena membocorkan pemotongan dana BSM

Sumber : Kompas

Editor: Rio Indrawan