Kenangan Ramadhan di Belanda Saat Musim Panas

Jakarta, PINews.com - Selama empat kali mengalami Ramadhan di Negeri Kincir Angin, semakin lama semakin panjang sehingga kami sekeluarga menjalani puasa yang cukup panjang di musim panas yang dimulai sekitar pukul 03.00 dan berbuka sekitar pukul 22.00. Dalam mengisi bulan Agung tersebut, komunitas muslim Indonesia yang tergabung dalam wadah De Groningen Moslem Society (deGromist) memiliki beragam aktivitas.

Awal dan tengah Ramadhan tahun 2016, misalnya, bertepatan dengan ujian akhir mahasiswa dan juga sekolah sehingga agenda mengisi Bulan Puasa disesuaikan sehingga Ramadhan lancar dan kuliah sukses. 

Secara garis besar, selama ramadhan De Gromist lebih menekankan pada upaya meningkatkan kemampuan baca Al-Quran lewat Tadarus keliling dan juga pendalaman agama lewat tausiyah dari beberapa ustadz. Acara ini dimulai setelah usai perkuliahan sekitar jam 20.30 sampai buka puasa sekitar jam 22.10.

Kegiatan ini dilakukan secara berkeliling minimal sepekan tiga kali dari rumah ke rumah mahasiswa Indonesia di Groningen. Setelah acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan sholat maghrib berjamaah.

Untuk tarawih, dilakukan sesuai preferensi masing-masing, ada yang di rumah masing-masing atau berjamaan di Mesjid Selwerd Arab-Maroko dan Mesjid Sultan Turki. Karena malam cukup pendek dan tanda masuk isya tidak mudah dikenali, Mesjid Turki menetapkan 1 jam setelah maghrib atau lebih cepat dibanding Mesjid Arab-Maroko yang mematok 1,5 jam setelah magrib sehingga shalat tarawih dimulai cukup malam sekitar jam 12 malam.

Untuk jum’atan pun, ada yang memilih di Mesjid Arab-Maroko dan juga Mesjid Turki tergantung kedekatan lokasi ke kampus masing-masing. Jika masjid Arab-Maroko berbahasa Arab, Masjid Sultan Turki berbahasa Turki. Masjid Sultan Turki nampaknya terorganisasi sebagai bagian program pemerintah Turki mempromosikan Islam di seantero Eropa sehingga gedungnya cukup megah dan tata kelolanya sangat rapi.

Mesjid Sultan-Turki merupakan gereja yang dibeli dan dialihfungsikan menjadi Mesjid sehingga lokasinya sangat strategis di Jalan besar Korreweg Groningen serta area parkir yang luas sehingga setiap jumat selalu padat dengan jamaah dari beragam pelosok dengan latar belakang negara asal yang beragam (multinasional).

Di saat musim liburan sekolah, jumatan semakin meluber sehingga memanfaatkan ruang kelas yang ada di komplek Mesjid tersebut. Di musim sekolah, anak-anak sekolah tak bisa ikut jumatan karena mereka masih belajar di sekolah. Dengan demikian, anak dan remaja di sini hanya mengenal jum’atan saat liburan saja dan jika liburan juga tak sempat maka tak menjalani jumatan.

Sebuah kenangan dan pengalaman yang membuat kami makin bersyukur menjalani Ramadan di tanah air sekarang. Alhamdulillah

Editor: