Perhapi: Zona Merah Emas Hitam

Jakarta-PINews.com- Akankah industri pertambangan batubara Indonesia memasuki sinyal merah di masa-masa yang akan datang? Hal ini disebabkan beberapa indikator, yakni kecenderungan penurunan harga komoditas batubara, tuntutan pengelolaan lingkungan dan tanggung jawab sosial, isu pemanasan global, hilirisasi batubara, serta terhentinya minat lembaga pembiayaan untuk mendukung industri ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Rizal Kasli dalam rilisnya, menyikapi kondisi aktual industri tambang batubara dalam negeri. Rizal menyampaikan bahwa Indonesia harus cepat mengambil langkah antisipatif agar batubara tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi dan juga salah satu industri yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Indonesia masih sangat membutuhkan batubara. Selain sumber energi nasional yang murah, juga sebagai solusi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Permasalahan di sektor ini harus disikapi secara positif agar dapat memberikan kontribusi optimal bagi bangsa dan negara,” ungkap Rizal dalam rilisnya.

Rizal mengungkapkan, PERHAPI pada usianya yang ke–30 akan mengadakan konferensi yang  mengangkat tema “Save Indonesia Coal (SIC)” guna mencari solusi terbaik bagi sektor industri tambang batubara. Batubara tidak boleh lagi dianggap sekadar penyumbang devisa, tapi harus lebih dari itu. Batubara harus menjadi sumber ketahanan energi dan katalis pembangunan secara berkelanjutan. Pengelolaan batubara harus mempertimbangkan masa depan energi bangsa dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta kemanfaatan bagi masyarakat.

Untuk itu, Perhapi yang menaungi 6.232 profesional pertambangan di Indonesia akan melaksanakan Indonesian Coal Conference 5th dengan tema Utama Save Indonesia Coal (SIC) secara virtual di Jakarta pada 11-18 September 2020. Indonesian Coal Conference sendiri terakhir kali terselenggara pada tahun 2011.

“PERHAPI akan membuat rumusan penyelesaian terbaik dari sisi regulasi maupun bisnis. Batubara sebagai sumber daya alam tidak terbarukan diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan,” tambah Rizal.

Sampai dengan Juli 2020, produksi batubara Indonesia mencapai 271.35 jt ton, 49% dari rencana produksi berdasarkan persetujuan RKAB awal sebesar 550 juta ton. Angka ini 12% lebih rendah dari 2019 dengan produksi 616 juta ton. Selain penurunan produksi, harga batubara juga tergerus sampai ke level US$50 per ton. Harga batubara kemungkinan bisa tergerus lagi atau mengalami stagnasi di level $ 50-an jika tidak dilakukan pengendalian produksi secara Nasional.

“Jika kondisi ini berlangsung terus, berbagai dampak akan muncul. Penurunan produksi dan melemahnya harga akan membuat penerimaan negara turun, potensi PHK di sektor pertambangan, dan juga lesunya ekonomi di daerah pertambangan. Namun yang paling mengkhawatirkan adalah turunnya cadangan batubara nasional dan rendahnya upaya pencarian cadangan baru atau eksplorasi. Semua ini harus cepat dirumusan solusi terbaiknya untuk kemajuan bersama,” tutup Rizal.

Editor: