Pemerintah Didorong Lakukan Pembatasan produksi Batu bara

Penulis: ES - Waktu: Selasa, 18 Juli 2017 - 09:49 AM

Jakarta-PINews.com. Batu bara menjadi salah satu sumber energi nasional khusus di sektor ketenagalistrikan. Dengan semakin banyak pembangkit dari batu bara yang dibangun ke depan kebutuhan domestik akan meningkat. Ini menjadi alasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) mendorong pembatasan produksi batu bara.

Pemerintah dalam hal ini Kementrian ESDM hendaknya mematuhi amanat tersebut dengan mulai melakukan upaya pembatasan produksi. Namun sampai sekarang upaya tersebut belum kelihatan. Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Nasional, Merah Johansyah Ismail mengatakan, pihaknya meragukan komitmen pemerintah.

Apalagi setelah adanya surat kepada Kementerian PPN/Bappenas dari Kementerian ESDM yang menyebutkan untuk rencana produksi di 2017 mencapai 477,91 juta ton atau lebih tinggi 64,9 juta ton dari data RPJMN untuk tahun 2017 yaitu 413 juta ton.

 “Jangan sampai RPJMN dan RUEN hanya sekedar jadi dokumen saja namun jauh dari implementasi, dan pembatasan batubara hanya menjadi mimpi,” demikian kata dalam siaran pers yang diterima Portal Indonesia News.

Dijelaskan juga bahwa langkah strategis selain kebijakan pembatasan produksi yang juga telah tertuang dalam RUEN yakni moratorium pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) batubara di hutan alam primer dan lahan gambut yang berada di hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi, dan area penggunaan lain.

“Moratorium sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih jauh dari pertambangan di kawasan yang dilindungi,” lanjut Merah. 

Sebagaimana diketahui setidaknya tercatat sebanyak 26 rencana aksi mengenai batubara dari Peraturan Presiden (Perpres) No 22/2017 tentang RUEN yang harus diimplementasikan dengan target waktu yang berbeda-beda. “Sayangnya tidak ada aturan tegas soal sanksi atau mekanisme diinsentif apabila ada pelanggaran dari perusahaan dan provinsi yang melanggar ini,” tukas Merah.

Selain pelanggaran aturan itu semua Pemerintah juga dituntut lebih radikal lagi menurunkan angka produksi batubara nasional, semuanya harus dicek ulang dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dan ekosistem kepulauan Indonesia.

Saat ini saja sudah 44 persen dari daratan dan perairan indonesia dikapling tambang, 10 persennya dikapling oleh tambang batubara yang sudah tumpang tindih dengan 4,4 juta hektar lahan pertanian produktif.

“Kewajiban menurunkan produksi batubara nasional tidak hadir di ruang hampa, ada latar belakang yang mempengaruhinya. Salah satunya karena pemerintah Indonesia sudah berkomitmen dalam menekan laju panas suhu bumi akibat perubahan iklim dibawah 2 derajat melalui kesepakatan perubahan iklim di Paris dan Maroko. Jangan lupa bahwa tanda-tangan komitmen menurunkan emisi karbon 29% secara Business as Usual dan 41 % jika ada bantuan kerjasama internasional, juga disumbang sektor batubara ini.  Sudah saatnya pemerintah melakukan moratorium izin baru tambang batubara,” tutup Merah.

Peneliti Tata Kelola Batubara, Publish What You Pay Indonesia, Agung Budiono mengatakan meskipun tren produksi saat ini mengalami penurunan yakni, di 2015 sebanyak 461 juta ton dan 2016 sebanyak 434 juta ton, faktor pendorong penurunan bukan karena kebijakan pembatasan melainkan adanya faktor penurunan harga.

“Buktinya di 2017 pemerintah merevisi target menjadi sangat tinggi. Karena itu, seharusnya pemerintah menyusun strategi khusus bagaimana mengatur PKP2B dan IUP di Provinsi untuk patuh melakukan pembatasan. Kendala utama pasti terjadi di Provinsi, namun ini tantangan bagi pemerintah atas kebijakan yang dibuatnya. Harus dicari jalan keluarnya bersama,” papar Agung.

Menurut Agung, setidaknya terdapat dua hal penting yang harus didorong agar dapat mengimplementasikan kebijakan pembatasan produksi batubara. Pertama, perlunya keseriusan dalam melakukan perubahan paradigma pengelolaan energi, yaitu tidak lagi bergantung pada penggunaan energi fosil seperti batubara secara masif. 

“Pemerintah sudah harus mulai berpikir soal batubara sebagai salah satu penopang penerimaan negara, karena selama pemerintah ini masih berpikir batubara dan sumber daya ekstraktif menjadi tumpuan penerimaan dan fiskal, akan sangat sulit kita keluar dari ketergantungan pada energi fosil. Kedua, kemauan politik yang kuat dalam menjalankan kebijakan. “Kalau political will sudah kuat, seharusnya tidak lagi ada ruang kompromi dari para kelompok kepentingan lain,” tukas Agung.

 

Editor: ES