HARI BUMI 2021: Dari Dapur, Pulihkan Bumi

Penulis: Alamsyah - Waktu: Sabtu, 24 April 2021 - 21:38 PM

DEPOK-PINews.com-Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April senantiasa menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kita masih memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk memulihkan bumi dari sengkarut kerusakan akibat beragam sebab. Tak bisa dipungkiri bahwa bumi dengan segala isinya merupakan tumpuan hidup bagi kita semua, tetapi praktek-praktek yang merusak lingkungan masih saja terus terjadi. Mulai dari membng sampah sembarangan, masih menggunakan segala hal yang mengandung kimia sintesis untuk kehidupan sehari-hari, hingga perilaku acuh terhadap makin bertumpuknya masalah lingkungan di sekitar kita.

Bertepatan dengan peringatan hari bumi 2021 ,  gabungan organisasi komunitas peduli lingkuangan di Kota dep[ok, Jawa Barat,melaksanakan kegiatan penanaman pohon dan penuangan eco enzym ke sungai, (Sabtu/24/04). Kegiatan tersebut dilaksanakan di pinggiran sungai Ciliwung yang berada di sekitar Perumahan Permata, Kelurahan  Pondok Jaya, Cipayung, Kota Depok.

Gabungan kounitas yang tergabung dalam kegiatan ini yakni, Sendalu Permaculture, Rumah Organik Studio Alam Indah (ROSAI), Depok Eco Enzym, Kagama Cinta Sungai, Earth Hour Depok, dan Teras Kamala atas dukungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK)  Kota Depok. Sebelum kegiatan penanaman dan penuangan eco enzym, tepat pada tanggal 22 April, dilaksanakan diskusi tentang manfaat eco enzym dan cara pembuatan eco enzym yang dilaksanakan melalui Instagram live.

Gibran Tagrari dari Sendalu Permaculture menjelaskan bahwa  sekarang bisa kita mulai di hari bumi, berbuat kebaikan, merawat ibu bumi, sedikit-sedikit setiap harinya. Bisa dimulai dengan berkebun, dengan mengurangi sampah, merawat sungai, atau membuat eco enzyme dan memanfaatkannya untuk kegiatan sehari-hari seperti yang  teman-teman komunitas lakukan. Kita manusia hanyalah satu elemen dari ekosistem di bumi ini, jadi mari kita bersama-sama hidup selaras dan sesuai dengan bagaimana kita diciptakan.

“Setiap hari sejatinya adalah hari bumi. Mungkin kita merayakannya dalam satu hari ini, tapi dengan keadaan bumi seperti sekarang ini, itu saja tidak cukup.,” demikian jelas Gibran.

“Bumi telah menjadi rumah kita, tempat kita bertinggal dan berkembang. Tanpa alamnya kita tidak akan berdaya. Mari jadikan hari bumi momen untuk memulihkannya selangkah demi selangkah, bersama-sama, ungkap Feby dari Teras kamala.

Sussy Ivvaty, koordinator Kagama Cinta Sungai (KCS),mengungakpakan bahwa  organisasi ini  berkomitmen untuk selalu mencintai sungai (terutama) dan lingkungan hidup serta bumi secara luas dengan memperlakukannya sebagai sahabat yang harus saling jaga. Hari Bumi menjadi satu momen untuk kita berefleksi dan lebih giat lagi menjaga serta memelihara alam yang selama ini telah memberi kita banyak hal.

“Kegiatan KCS selama ini selain bersih sungai, menanam bibit pohon, dan membuat eco enzyme,  juga menguatkan literasi dan edukasi bersama Kagama sebagai organisasi payung,” jelas dia.

Sementara Depok Eco Enzym menyebutkan bahwa bahwa persoalan sampah adalah problem mendesak yang harus  tuntaskan. Setiap tahun, sekira 70 ton sampah tertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menjadi penyumpang terbesar gas rumah kaca. Dari jumlah sampah tersebut, 40 persen merupakan sampah organik yang berasal dari rumah tangga. Karena itu ia menyarankan agar sampah organik tersebut dimanfaat agar bisa memberi nilai tambah dan mengurangi gas rumah kaca.

“Gerakan peduli lingkungan bisa dimulai dari dapur rumah anda masing-masing. Pilah sampah organik anda. Kulit buah dan sisa batang sayur segar yang biasanya terbuang sia-sia, mulailah mengumpulkannya. Dengan air di rumah anda, dan gula merah alami, anda bisa membuat Eco Enzyme yang bermanfaat untuk menyelamatkan bumi kita,” demikain statement Pius Wisnugraha, Koordinator Eco enzym depok yang menyarankan untuk memanfaatkan sampah organik diolah menjadi Eco enzym.

Penekanan yang sama juga disampaikan oleh Puji Nurwanto  dari Depok Berkebun, bahwa sesungguhnya bumi adalah istana yang memberikan kehidupan bagi kita, sehingga  kewajiban setiap makhluk untuk menjaganya agar tetap lestari dan gemah ripah lohjinawi.

“Bumi adalah tempat tinggal kita bersama. Sudah sepatutnya kita menjaga rumah kita sendiri. Menjaga, bukan berarti hanya mendiaminya, tapi juga memperhatikan berbagai tingkah laku keseharian kita yang dapat berdampak bagi bumi. Hari bumi hanya sebuah momentum untuk kita bersama-sama mengobarkan semangat memperhatikan kebiasaan kita, apakah sudah memperhatikan keselamatan bumi? Yuk kita sama-sama menjaga bumi dengan langkah kecil yang dapat kita lakukan di rumah, mengubah gaya hidup menjadi gaya hidup ramah lingkungan berkelanjutan, demikian pernyataan dari  -Earth Hour Depok, komunitas yang dihuni anak-anak milenal pecinta lingkungan.

Anis Hidayah dari ROSAI mengajak semua masyarakat, terutama perempuan untuk menjaga bumi dengan tindakan yang nyata dan ramah pada lingkungan, mulai dari mengurangi plastik, memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair, kompos dan eco enzym serta menanam kebutuhan sehari-hari secara organik dengan meninggalkan pupuk kimia.

“Langkah-langkah ini bila dilakukan secara bersama dan berkelanjutan akan berdampak besar pada terciptanya ecosystem lingkungan yang lebih terjaga,” demikian pungkas Anis Hidayah.

Etty Suryahati, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan kebersihan (DLHK) Kota Depok, Jawa Barat, yang turut hadir dalam kegiatan penanaman dan penuangan eco enzym, memberikan apresiasi atas kerja bersama yang dilakukan berbagai komunitas tersebut.  Menurut dia, bumi merupakan titipan anak-cucu. Karenanya, generasi sekarang harus merawat titipan tersebut dengan sebaiknya, sehingga anak-cucu nanti menikmati kehidupan yang baik juga.

“Semua masyarakat harus berterima kasih kepada bumi. Bumi memiliki peran yang demikian besar, bumi sudah memberikan banyak kepada manusia. Maka sudah selayaknya manusia menjaga bumi dengan baik, menjaga titipan anak cucu kita. Salah satunya dengan bijak memanfaatkan sampah,  agar bernilai tambah, baik dijadikan kompos atau juga dijadikan eco enzym. Mari selamatkan bumi dari dapur kita,’  ungkap Etty.

Tentang Eco Enzym

Eco enzym merupakan cairan fermentasi dari kulit buah dan sayuran, air dan gula merah/aren atau molase. Fermentasi dilakukan selama 90 hari atau tiga bulan. Setelah dipanen, cairan ini dimanfaatkan untuk banyak hal, Baik untuk kebutuhan pertanian, kesehatan ataupun dimanfaatkan untuk kebutuhan  sehari-hari di rumah.

Cairan ini merupkan temuan DR. Rosukon, pegiatn dan juga Wakil Presiden Pertanian Organik, Thailand. Lebih dari 30 tahun, perempuan yang memulai kegiatan dengan membuka Health Farm ini, melakukan penelitian. Lebih dari itu, Eco Eenzym merupakan sebuah ikhtiar untuk menyelamatkan bumi, dengan memanfaatkan limbah organik yang setiap dikonsumsi.

Editor: