Lapor Pak Presiden, Kata Pertamina Progress FEED Kilang Tuban Hampir Mencapai 50%
Credit by: Presiden Joko Widodo saat kunjungi TPPI (Foto/Ist)

JAKARTA, PINews.com - Tak mau kena damprat Presiden lagi, Manajemen PT Pertamina (Persero) memastikan berbagai proyek kilang yang sedang dikerjakan terus dikejar penyelesaiannya. Proyek Kilang Tuban yang disebut Presiden Jokowi realisasinya investasinya baru 5%, menurut Pertamina  sedang dalam tahap pembuatan Front End Engineering Design (FEED) dengan progres 49,16%. Secara keseluruhan kilang Tuban ditargetkan rampung pada tahun 2027.

Selain kilang baru saat ini Pertamina juga tengah mengerjakan pengembangan fasilitas pengolahan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (PT TPPI). Berdasarkan data yang diperoleh Dunia Energi untuk kilang baru yang baru dibangun atau Grass Root Refinery Tuban saat ini sedang dalam tahap pembuatan Front End Engineering Design (FEED) dengan progres 49,16%. Secara keseluruhan kilang Tuban ditargetkan rampung pada tahun 2027.

Sementara untuk proyek revamping Aromatic TPPI terbagi dalam dua fase yakni. Fase pertama adalah pembangunan OSBL (5 unit Tangki) untuk memaksimalkan produk paraxylene 600 ribu ton. Ditargetkan selesai di akhir Desember tahun 2021. Kemudian untuk fase 2 upgrading ISBL (Unit proses) untuk meningkatkan kapasitas dari 600 Kta ke 780 Kta yang ditargetkan akan selesai di tahun 2023 dengan investasi sekitar US$238 juta.

Seperti ditulis Dunia-Energi.com, Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina, saat dihubungi membenarkan progres sejauh ini yang dicapai Pertamina dalam pembangunan kilang Tuban dan pengembangan TPPI tersebut. “Benar (progresnya seperti itu),” kata Nicke

Dia juga menambahkan Pertamina akan terus mengembangkan fasilitas TPPI melalui proyek Olefin hingga nantinya bisa memproduksi Polyprohylene dan Polyethylene. “Untuk Olefin TPPI, unit Polyprohylene akan mulai berproduksi tahun 2024, dan unit Polyethylene akan mulai berproduksi tahun 2025,” ungkap Nicke.

Presiden Joko Widodo akhir pekan lalu  memuntahkan kegusarannya secara terbuka karena Pertamina dianggap lelet menyelesaikan Proyek Kilang Tuban dan proyek petrokimia PT TPPI.  Alasan mendasar proyek ini tertahan, menurut Jokowi, karena budaya bisnis yang dijalankan Pertamina tidak pernah berubah,  hanya mengerjakan proyek sesuai rutinitas saja. " Problemnya comfort zone, zona nyaman, zona rutinitas itu yang ingin kita hilangkan. Masih senang dengan comfort zone, udah gak bisa lagi," tuturnya.

Pertamina juga dinilai kurang berani melakukan terobosan. Seperti kasus TPPI, alasan yang diungkapkan berputar di situ-situ saja, “ Waktu saya ke sana yang terakhir, Bu Dirut cerita itu ya saya bentak itu karena memang benar, diceritain hal yang sama gitu lho," ungkapnya. "Saya nggak mau dengar cerita itu lagi, saya sudah dengar dari cerita dirut-dirut sebelumnya. Saya blak-blakan, memang biasa," kata Jokowi melampiaskan kekesalannya. 

Jokowi juga bercerita bahwa sudah dilakukan tender sebanyak dua kali di proyek tersebut. Namun hasilnya begitu-begitu saja. Dirinya menegaskan bahwa selalu memantau perkembangan proyek TPPI.

Jokowi memastikan, begitu proyek TPPI ini rampung maka Indonesia bisa mengurangi impor dalam jumlah yang sangat besar, terutama yang berkaitan dengan petrokimia dan produk turunannya.

Editor: Alam